Bagi wanita yang hidup di permukiman nelayan, kehadiran ikan teri
tidak asing lagi. Bahkan pada musimnya, ikan ini berlimpah-ruah hingga
nyaris tidak ada harganya.
"Ikan teri segar dalam Bahasa Buol
adalah ilatan," kata Dyah Anggraini, warga Desa Ponipingan, Bunobogu,
Buol, Minggu (10/2/2019).
Dyah Anggraini yang hobby memasak ini
menceritakan sudah 3 hari ini penjual ikan yang lewat di depan rumahnya
membawa ikan teri segar. Ini menunjukkan sedang musimnya, bisa seminggu
lebih sang penjual hanya membawa ilatan alias teri segar.
Saat musim teri inilah ambal akan banyak muncul. Ambal adalah makanan khas yang yang berbahan teri segar.
"Tampilan
Ambal mirip pizza sehingga sering disebut pizza Buol. Bahan dasarnya
adalah tepung sagu atau tumbang yang dicampur kelapa dan rempah," ujar
Dyah Anggraini.
Dyah Anggraini menjelaskan cara memasaknya yang
mudah. Sagu yang digunakan harus kering untuk hasil yang lebih baik.
Sagu dicampur kelapa parut, pilih kelapa yang muda sebab manis rasanya.
Ikan
teri yang sudah dicuci, dilumuri air jeruk nipis. Untuk bumbu rempahnya
sangat sederhana, bawang, jahe, lengkuas, kunyit dan daun kemangi.
"Boleh
ditambah rica atau cabai sedikit, rica menambah sedap dan wangi aroma
masakan. Bumbu yang sudah ditumbuk, dicampur dengan ikan, kemangi dan
garam," jelas Dyah Anggraini yang berayah orang Jawa dan beribu Buol
asli.
Sebelum dimasak, wajan atau bisa juga menggunakan dodongoan
yang terbuat dari tanah liat. Setelah wajan panas, tabur sagu di atas
wajan hingga berbentuk bulat, lalu adonan ikan teri disebar di atasnya.
"Sebaiknya Ambal langsung dimakan begitu diangkat dari wajan," ujar Dyah Anggraini.
Dyah
Anggraini menyarakankan makan Ambal boleh dengan sayur bunga pepaya,
boleh juga yang berkuah santan seperti sayur kacang hijau.
"Tentang
rasanya, tak bisa saya lukiskan dengan kata. Yang pasti makan Ambal
sembari minum air kelapa muda, membuat saya rindu pulang kampung," kata
Dyah Anggraini sambil tersenyum.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar